Total Tayangan Halaman

Jumat, 02 Maret 2012

Logat Ngapak Hilang Dariku?


Seperti biasa, pagi hari aku harus sudah berada Museum Radya Pustaka (RP). Museum yang terletak di tengah Kota Solo tersebut buka pada jam 08.30. Tapi, jam 08.00 aku sudah sampai di Museum RP. Terang saja museum belum buka, dan petugas yang bertugas membuka pintu museum yang bernama mas Fajar belum membuka pintu apalagi duduk di loket tempat menjual tiket masuk.
Sesampainya di museum aku hanya bertemu dengan seorang bapak penjaga parkir museum yang juga bertugas sebagai tukang sapu (tukang bersih-bersih) museum di pagi hari. Kenapa saya menyebutnya sebagai “tukang bersih-bersih museum di pagi hari”? Karena siang harinya sudah ada petugas lainnya bernama pak Kancil. Jadi, bapak yang bertugas bersih-bersih di pagi hari itu setelah selesai membersihkan bagian luar museum berubah tugas menjadi penjaga parkiran.  
Sambil menunggu yang lainnya datang aku nongkrong bersama pak Bagyo. Ngalor-ngidul percakapan antara aku dan pak Bagyo. Tiba-tiba beliau bertanya darimana aku berasal. Aku jawab kalau saya berasal dari Kebumen. Wajah pak Bagyo terlihat terkejut mendengar jawabanku. Aku menjadi bertanya-tanya dalam hati mengapa pak Bagyo terlihat terkejut mendengar jawaban aku.
“Asli Kebumen kok nggak nagapak, mas?”
“hehehe...” Aku hanya menjawab pertanyaan pak Bagyo dengan senyuman.
“Lha situ lahir di Kebumen, tapi besar di Solo pasti ya?” Pria paruh baya itu menebak dengan amat yakin.
“Saya sejak lahir sampai SMA di Kebumen, pak.”
“Lho kok bisa?”
“Mungkin sudah lama di Solo”
“Sudah berapa tahun di Solo?”
“Lima tahun, pak”
“Saya kira lama atau tidaknya tinggal di Solo tidak akan menghilangkan seutuhnya logat seseorang. Dulu ada seorang pegawai museum berasal dari Tegal yang sudah tinggal di Solo lebih dari lima tahun logatnya juga masih kelihatan kalau dia bukan orang Solo.”
“Hehehe...” Lagi, aku tersenyum mendengar pernyataan pak Bagyo.
Apakah benar saya sudah kehilangan logat asli saya, logat ngapak?? Sebagai rumpun ngapak sebenarnya saya tidak mau kehilangan “identitas” diri. Akan aku jaga terus “identitas” yang sudah menempel sejak lahir. Namun, ada sesuatu yang membuatku heran. Mengapa aku bisa berbicara dengan logat layaknya orang Solo? Apakah ini pertanda kalau aku akan mendapatkan jodoh orang Solo Raya (bisa Surakarta, Karanganyar, Sragen, Sukoharjo, Boyolali, atau Klaten)?? Hahaha...
Wallahu a’lam

*Percakapan sebenarnya menggunakan bahasa jawa. Dalam tulisan di atas sudah ditranselit menjadi bahasa Indonesia.

Sabtu, 25 Februari 2012

Memilih Pasangan Hidup


Setiap manusia yang normal, pasti ingin menikah dengan lawan jenisnya. Menikah bisa membuat seseorang menjadi tenang karena ada tempat untuk berbagi yang dilegalkan oleh hukum negara ataupun hukum agama. Selain itu, menikah juga bisa memperbanyak keturunan dan menyempurnakan separuh agama. Namun sayang, tidak sedikit orang yang batal menikah dikarenakan keinginan antara sang anak dengan orang tua yang berbeda.
Komunikasi dan diskusi dengan orang tua, merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh seseorang yang sudah memasuki masa siap menikah. Komunikasi antara sang anak dengan orang tua, akan bermanfaat bagi orang tua dikarenakan orang tua dapat mengetahui bagaimana kriteria calon pasangan yang diinginkan oleh sang anak dan juga bisa mengetahui bagaimana visi dan misi sang anak dalam menjalani biduk rumah tangga selanjutnya.
Selain bagi orang tua, komunikasi dan diskusi sebelum pernikahan juga berguna bagi sang anak. Komunikasi dan diskusi tersebut bisa memberikan informasi kepada sang anak mengenai calon menantu yang diinginkan oleh orang tua. Bukan tidak mungkin, komunikasi dan diskusi tersebut bisa menghasilkan pelajaran bagi sang anak mengenai cara membangun rumah tangga yang baik dan benar.
Terkadang, ketika komunikasi dan diskusi tersebut dilakukan, bukan tidak mungkin keinginan antara orang tua dan anak akan berbeda. Kendala seperti ini harus dibicarakan dengan baik-baik antara orang tua dan anak agar didapatkan sebuah solusi yang disepakati bersama. Namun, jika tetap tidak mendapatkan solusi, maka langkah terbaik adalah merujuk kepada hadist Nabi Muhammad SAW.
“Nikahilah wanita karena empat hal: karena hartanya, kecantikannya, keturunannya dan karena agamanya. Maka pilihlah yang memiliki agama (taat beragama), niscaya beruntung kedua tanganmu.” (HR Ahmad dalam musnadnya)  
Seperti kita ketahui bersama bahwa untuk mencari pasangan hidup, seseorang harus memperhatikan empat hal dari calon pasangannya. Hadist di atas tidak hanya berlaku bagi laki-laki yang hendak mencari istri, tetapi juga bagi perempuan yang hendak mencari suami.  Empat hal yang perlu diperhatikan dalam mencari pasangan hidup tersebut adalah kecantikan/ketampanan, kekayaan, garis keturunan, serta pemahaman dan penerapan ilmu agama dalam kehidupan sehari-harinya. Berdasarkan empat hal tersebut, faktor pemahaman dan penerapan ilmu agama dalam kehidupannya, merupakan satu hal yang sangat penting dalam mencari pasangan hidup.
Jikalau komunikasi dan diskusi tentang pernikahan telah dilakukan sebelum pernikahan terjadi, maka bukan mustahil bahwa pernikahan tersebut akan mendapatkan ridho dari Allah SWT dan mendapatkan keberkahan dalam menjalani biduk rumah tangga dikarenakan orang tua ridho dan ikhlas terhadap pernikahan anaknya dan sang anak menikahi lawan jenis dikarenakan mempertimbangkan faktor pemahaman dan penerapan ilmu agama dalam kehidupan sehari-hari.

Jumat, 24 Februari 2012

“Cogito Ergo Sum” Dipraktekkan oleh Facebook

Berawal dari sebuah obrolan ringan antara saya dan teman di city walk kota Solo. Lebih tepatnya di depan Graha Wisata Niaga. Kami berdua duduk di sebuah kursi yang disediakan untuk masyarakat yang hendak bersantai menikmati rindangnya pohon di pinggir jalan atau melihat ramainya jalan Slamet Riyadi.
Tidak ada topik khusus dalam obrolan tersebut. Setelah ngalor-ngidul  berbicara, sampailah pada topik yang sangat menarik yaitu perihal ungkapan Descartes, seorang filsuf asal Perancis. Ungkapan Descartes berbunyi: Cogito ergo sum, yang artinya “aku berfikir maka aku ada”.
Maksud kalimat tersebut adalah membuktikan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang. Keberadaan ini dibuktikan dengan fakta bahwa ia berfikir. Manusia yang dibekali dengan akal haruslah menggunakan akalnya untuk berfikir. Kalau dia berfikir membuktikan seseorang tersebut ada dan tetap eksis.
Fenomena menarik yang ada di sekitar kita tapi kadang tidak disadari oleh kita adalah Facebook. Dimana facebook telah mempraktekan ungkapan Descartes. Ketika hendak menulis status maka kita harus meng-klik tulisan: “perbarui status”, dengan otomatis di bawahnya muncul sebuah tulisan berbunyi: “apa yang anda pikirkan?”. Sangat jelas terlihat, kita menuangkan pikiran kita ke dalam status di facebook yang akan ditampilkan di Beranda dan dibaca oleh banyak orang.
Tidak jarang yang menuliskan status hanya untuk bernarsis ria. Namun, tidak sedikit pula menuliskan unek-unek di statusnya, mulai dari unek-unek masalah pekerjaan, keluarga, bahkan sampai masalah nasional yang sedang melanda negeri ini yang berpengaruh sampai ke penulis status baik secara langsung maupun tidak langsung. Ada juga yang menuliskan status hasil pemikirannya.
Kesimpulannya menjadi sangat sederhana, yaitu facebook telah mempraktekan ungkapan Descartes. Kalau ingin tetap ada dan eksis maka kita harus berfikir dan facebook telah memfasilitasi kita untuk menuangkan pemikiran kita dalam status. Bahkan saat ini ada sebuah buku yang isinya kumpulan status di facebook.

Selasa, 31 Januari 2012

TIKI-TAKA BARCELONA MEMBOSANKAN?

"Dulu saya sangat senang melihat permainan Barcelona di akhir pekan, tetapi sekarang hal yang sama terjadi setiap pekan, mereka melibas semuanya, enam atau tujuh gol, Lionel Messi mencetak hat-trick setiap pekan. Saya bosan. Mereka terlalu bagus, saya bosan," ungkap Gelandang veteran Manchester United Paul Scholes Scholes kepada The Daily Mail.
Mungkin apa yang dirasakan Scholes juga dirasakan oleh sebagian orang yang terbiasa melihat permainan Barcelona dalam melibas lawan-lawannya. Cara Azulgrana mengolah si kulit bundar cukup unik dan menarik, sebab sampai saat ini belum ada klub di dunia yang mampu menyamai gaya permainan tim dari Catalan tersebut.
Kadang gaya permainannya yang kelihatan monoton membuat sebagian orang bosan. Tetapi, tidak bagi saya. Menurut saya permainan FC Barcelona mengandung suatu seni sepakbola kelas tinggi. Anggapan saya bahwa yang namanya sepakbola tidak hanya mengalahkan lawan dengan membuat gol sebanyak-banyaknya. Permainan atau tak-tik sebuah tim sepakbola juga menjadi unsur penting dalam keindahan suatu laga.
Tiki-taka Barcelona yang dipraktekkan oleh Leonel Mesi dan kawan-kawan di lapangan hijau ibarat sebuah tarian yang dibawakan oleh seorang penari profesional di atas panggung. Gerakan yang sangat gemulai seorang penari profesional membuat tarian menjadi terlihat indah dan eksotik, sehingga sedap untuk ditonton. Begitu pula dengan tarian tiki-taka yang dipertontonkan oleh Barcelona membuat setiap permainannya selalu sedap untuk ditonton.
Itu menurut saya. Bagaimana menurut anda?

SEJARAH MENTALITAS

Suatu sistem nilai-budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sistem nilai-budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Sistem-sistem tata kelakuan manusia lain yang tingkatnya lebih konkret, seperti aturan-aturan khusus, hukum dan norma-norma, semuanya juga berpedoman kepada sistem nilai-budaya itu.
Sebagai bagian dari adat-istiadat dan wujud ideal dari kebudayaan, sistem nilai-budaya seolah-olah berada di luar dan di atas diri para individu yang menjadi warga masyarakat yang bersangkutan. Para individu itu sejak kecil telah diresapi dengan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakatnya sehingga konsepsi-konsepsi itu sejak lama telah berakar dalam alam jiwa mereka. Itulah sebabnya nilai-nilai budaya sukar diganti dengan nilai-nilai budaya lain dalam waktu singkat.
Istilah kedua, ialah sikap mental, walaupun sering dikacaukan dengan istilah sistem nilai-budaya, sebenarnya mempunyai arti yang samasekali berlainan. Konsep sistem nilai-budaya atau cultur value system itu banyak dipakai dalam ilmu-ilmu sosial, yang terutama terfokus dalam kebudayaan dan masyarakat, dan baru secara sekunder kepada  manusia sebagai individu dalam masyarakat.
Sebaliknya, sikap mental atau attitude itu, banyak diapaki dalam ilmu psikologi, yang terutama memfokus pada individu dan baru secara sekunder kepada kebudayaan dan masyarakat yang merupakan dari lingkungan dari individu. Suatu sikap adalah suatu disposisi atau keadaan mental di dalam jiwa dan diri seorang individu untuk bereaksi terhadap lingkungannya (baik lingkungan manusia atau masyarakatnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan fisiknya).
Walaupun berada di dalam diri seorang individu, sikap itu biasanya toh juga dipengaruhi oleh nilai budaya dan sering juga bersumber kepada sistem nilai-budaya  yang ada di dalam lingkungan masyarakat dan mempengaruhi seorang individu baik secara langsung maupun tidak langsung.
Istilah ketiga, ialah mentalitas, bukan istilah buat suatu konsep ilmiah dengan suatu arti yang ketat. Istilah itu adalah istilah sehari-hari dan biasanya diartikan sebagai : Keseluruhan dari isi serta kemampuan alam pikiran dan alam jiwa manusia dalam hal menanggapi lingkungannya. Pokoknya, istilah itu mengenai sistem nilai-budaya maupun sikap mental, dan bisa kita pakai kalau kita membicarakan kedua hal tersebut, tanpa maksud untuk secara ketat mengkhusus terhadap salah satu dari keduanya.
Contoh dari suatu sikap yang biasanya hanya ada pada individu-individu tertentu saja, adalah misalnya sikap congkak dalam hal menanggapi orang lain yang berkedudukan sebagai bawahan, atau orang yang bersifat kurang dan lemah secara fisik, mental dan material. Dasarnya adalah mungkin sikap congkap seperti pada sikap di atas, tapi kemudian sikap ini terpengaruh  yang menganggap bahwa mencapai kedudukan tinggi dimana orang dapat dilayani orang lain, menjadi tujuan utama yang memberi arti kepada segala usaha dari karya manusia dalam hidupnya.
Dalam bagian dari nilai-budaya muncullah konsep sejarah intelektual (Intellectual History) atau sama dengan New History yang digagas oleh Perry Miller. Lain lagi pemikiran yang digagas oleh Robert Darnton tentang Intellectual History, dalam pemikirannya Intellectual History dibagi menjadi 4, yaitu :
a)      Sejarah Pemikiran (ideas), yakni studi filsafat
b)      Sejarah Intelektual (studi tentang informal, pendapat, gerakan pendidikan)
c)      Sejarah Sosial tentang ideology
d)     Sejarah cultural/sejarah kebudayaan seperti istilah antropologi meliputi pandangan hidup dan mentalitas kolektif.
Jadi dalam pendapat Robert Darnton Intellectual history meliputi keseluruhan bentuk pemikiran yang obyeknya agak berbeda dengan sejarah social dan sejarah ekonomi.
            Konsep di atas mendapat kritikan dari Febvre dengan memunculkan Sejarah Mentalitas. Bahkan Lucian Febvre disebut sebagai pelopor Sejarah Mentalitas. Menurut Febvre  langkah yang tepat dalam analisa sejarah adalah model penelusuran/pendeskripsian of faits de mentalite (keyakinan mentalitas).
Kritik terhadap sejarah intelektual mengarah pada dua kesalahan, yakni :
a.       Sejarah Intelektual memisahkan ide/atau pemikiran atau system pemikiran dari kondisi ide tersebut oleh karena itu memisahkannya dari bentuk kehidupan social nyata.
b.      Sejarah Intelektual membentuk suatu abstraksi umum yang tak terbatas/tak tergantung tempat dan waktu.
Mengapa Lucian Febvre disebut sebagai pelopor sejarah mentalitas? Lucian Febvre menjadi pelopor sejarah mentalitas karena dia mengemukakan pendapatnya tentang Spirit of the Time atau mental habits atau mental equipment. Inilah merupakan pendekatan baru yang perlu diterapkan dalam sejarah intelektual. Maka Febvre disebut sebagai pelopor Sejarah Mentalitas.
Obyek dari sejrah mentalitas adalah Kehidupan Kolektif, terdiri dari :
·         Sistem nilai atau mencakup sikap mental
·         Kebiasaan atau automatis repetitive : jiwa kolektif suatu peradaban
·         Mental kolektif berupa kekuatan ide
Selain itu Sejarah mentalitas juga memerlukan konsep. Konsep sejarah mentalitas mencakup sistem nilai (value system) yakni wujud yang paling abstrak dari kebudayaan dan sikap mental (mental attitude yang bersifat individual) atau predisposisi seseorang dalam menanggapi lingkungan/obyek yang memiliki kecenderungan untuk bertindak.
Kemudian dilakukan analisis terpadu sehingga mengahasilkan factor-faktor mendasar seperti mentalitas kolektif masyarakat saat itu yang mencakup :
a)      Mentalitas dalam waktu lama
b)      Perubahan keyakinan dan kepekaan dalam waktu singkat
c)      Tentang gerakan de-kristenisasi di Perancis
d)     Bagaimana hubungan antara kelompok-kelompok social dengan tingkat budaya mereka, yang menghasilkan penggolongan mentalitas masyarakat dalam suatu hirarchi.
e)      Penggolongan penghasilan dan profesi.
Secara metodologis Sejarah mentalitas menerapkan metode :
a.       Disiplin Antropologi dan
b.      Disiplin Sosiologi
Dengan beberapa obyek :
ü  Upacara ritual mentalitas terkait hidup/kematian, kepercayaan, model pendidikan dll.
ü  Diferensiasi social, strtifikasi social, yang dikaitkan dengan diferensiasi kultural.

Minggu, 29 Januari 2012

Sejarah Masuknya Freeport ke Indonesia

Beberapa bulan setelah secara de-facto berkuasa, Presiden Soeharto menggadaikan nyaris seluruh kekayaan alam negeri ini kepada blok imperialisme asing. Salah satu cerita yang paling menyedihkan adalah tentang gunung emas di Papua Barat. Gunung emas yang sekarang secara salah kaprah disebut sebagai Tembagapura, merupakan sebuah gunung dimana cadangan tembaga dan emas berada di atas tanahnya, tersebar dan siap dipungut dalam radius yang amat luas.
Lisa Pease menulis artikel berjudul “JFK, Indonesia, CIA, and Freeport” dan dimuat dalam majalah Probe. Tulisan bagus ini disimpan di dalam National Archive di Washington DC. Dalam artikelnya, Lisa Pease menulis jika dominasi Freeport atas gunung emas di Papua dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di Indonesia sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba tahun 1959. Saat itu Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya terkena imbasnya. Ketegangan terjadi. Menurut Lisa Pease, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur Pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di Perpusatakaan Belanda. Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan membacanya.
Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pimpinan Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya di seluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada di sekujur Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.
Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survei dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul The Conquest of Cooper Mountain. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah di sekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari.
Wilson juga mendapatkan temuan yang nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak! Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama Gold Mountain, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar dan dalam waktu tiga tahun sudah kembali modal. Piminan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat. Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur menekan kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut.
Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam. Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat.
Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat.
Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibanding nilai emas yang ada di gunung tersebut.
Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pimpinan Freeport jelas marah besar. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan!
Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963. Banyak kalangan menyatakan penembakan Kenndey merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika.
Presiden Johnson yang menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak-belakang dengan pendahulunya. Johnson malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C. Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport.
Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California). Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini.
Augustus C. Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya.
Mungkin suatu kebetulan yang ajaib. Augustus C. Long juga aktif di Presbysterian Hospital NY di mana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.
Pease mendapakan data jika pada Maret 1965, Augustus C. Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Agustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelijen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend.
Salah satu bukti adalah sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan jika kelompok Jenderal Soeharto akan mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga pernah bersaksi jika hal itu benar adanya.
Awal November 1965, satu bulan setelah tragedi 1 Oktober 1965, Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan apakah Freeport sudah siap mengeksplorasi gunung emas di Irian Barat. Wilson jelas kaget. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport?
Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Mereka adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan Ibnu Soetowo dan Julius Tahija. Orang yang terakhir ini berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasionil mereka.
Sebab itulah, ketika ketika UU No. 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didiktekan Rockefeller, disahkan tahun 1967, maka perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto adalah Freeport. Inilah kali pertama kontrak perminyakan yang baru dibuat. Jika di zaman Soekarno kontrak-kontrak dengan perusahaan asing selalu menguntungkan Indonesia, maka sejak Soeharto berkuasa, kontrak-kontrak seperti itu malah banyak merugikan Indonesia.
Untuk membangun konstruksi pertambangan emasnya itu, Freeport menggandeng Bechtel, perusahaan AS yang banyak mempekerjakan pentolan CIA. Direktur CIA John McCone memiliki saham di Bechtel, sedangkan mantan Direktur CIA Richards Helms bekerja sebagai konsultan internasional di tahun 1978.
Tahun 1980, Freeport menggandeng McMoran milik “Jim Bob” Moffet dan menjadi perusahaan raksasa dunia dengan laba lebih dari 1,5 miliar dollar AS pertahun. Tahun 1996, seorang eksekutif Freeport-McMoran, George A. Maley, menulis sebuah buku berjudul “Grasberg” setebal 384 halaman dan memaparkan jika tambang emas di Irian Barat itu memiliki depost terbesar di dunia, sedangkan untuk bijih tembaganya menempati urutan ketiga terbesar.
Maley menulis, data tahun 1995 menunjukkan jika di areal ini tersimpan cadangan bijih tembaga sebesar 40,3 miliar pon dan emas sebesar 52,1 juta ons. Nilai jualnya 77 miliar dollar AS dan masih akan menguntungkan 45 tahun ke depan. Ironisnya, Maley dengan bangga juga menulis jika biaya produksi tambang emas dan tembaga terbesar dunia yang ada di Irian Barat itu merupakan yang termurah di dunia.
Istilah Kota Tembagapura itu sebenarnya menyesatkan dan salah. Seharusnya Emaspura. Karena gunung tersebut memang gunung emas, walau juga mengandung tembaga. Karena kandungan emas dan tembaga terserak di permukaan tanah, maka Freeport tinggal memungutinya dan kemudian baru menggalinya dengan sangat mudah. Freeport sama sekali tidak mau kehilangan emasnya itu dan membangun pipa-pipa raksasa dan kuat dari Grasberg-Tembagapura sepanjang 100 kilometer langsung menuju ke Laut Arafuru di mana telah menunggu kapal-kapal besar yang akan langsung mengangkut emas dan tembaga itu ke Amerika. “Perampokan legal” ini masih terjadi sampai sekarang.
Kisah Freeport merupakan salah satu dari banyak sekali kisah sedih tentang bagaimana kekayaan alam yang diberikan Allah SWT kepada bangsa Indonesia, oleh para penguasanya malah digadaikan bulat-bulat untuk dirampok imperialisme asing, demi memperkaya diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Kenyataan memilukan ini masih berlangsung sampai sekarang.

Sabtu, 28 Januari 2012

Pusat dan Pinggiran

Salah satu persoalan yang timbul dari penggunaan konsep ‘pusat’ dan ‘pinggiran’, adalah masalah relasi kedua konsep tersebut. Di sini juga terjadi kontradiksi dimana ibukota menyedot surplus ekonomi daerah-daerah  dan menggunakannya untuk kepentingan pembangunan ekonomi ibu kota itu sendiri. Muncullah ungkapan pembangunan keterbelakangan.
Model pinggiran pusat-pinggiran ini juga telah diterapkan di bidang-bidang lain, mulai dari bidang politik hingga bidang kebudayaan. Beberapa ilmuwan politik yang salah satunya, Stein Rokkan, menawarkan tentang tipologi tentang berbagai hubungan yang mungkin antara pusat territorial dan daerah pinggiran. Keindahan intelektual dari analisis, dalam arti dua konsep yang bertentangan namun saling melengkapi memang sangat menggoda.
Penggunaan konsep-konsep tersebut tentu mendorong adanya upaya untuk mencari gugus penyelidikan sejarah yang bermanfaat namun relative terabaikan. Sejarawan terbiasa mengkaji proses sentralisasi (pemusatan), tetapi mereka hamper tidak pernah mau menyelidiki proses peminggiran. Masalah lain muncul dari kenyataan bahwa sejumlah analisis, missal analisis Rokkan, menyiratkan adanya pandangan tentang masyarakat yang menekankan pada keseimbangan, sedangkan analisis Wallerstein lebih menekankan pada konflik.
Dengan adanya konsep pusat-pinggiran, maka muncul “Kontrol social” yang artinya konsep tradisional sosiologi yang menggambarkan tentang kekuasaan yang diterapkanmasyarakat atas individu-individu melalui hokum, pendidikan, agama dan lain-lain. Terhadap analisis ini mungkin ada baiknya memperkenalkan dua konsep, yaitu kekerasan simbolis dan negosiasi. Konsep kekerasan simbolis merujuk kepada pemberlakuan budaya kelas penguasa atas kelompok yang dikuasai. Negosiasi sejak mulanya dan secara harfiah untuk menganalisis tawar-menawar bayaran antara pengacara dank lien, telah diadaptasi secara luas untuk proses imbal beri antara dokter dan pasien atau antara pihak elite dan kelompok yang diperintah.
Penentangan (resistensi) sehari-hari berubah menjadi perlawanan terbuka atau semacam gerakan sosial. Gerakan-gerakan ini pada dasarnya berubah-ubah dan informal sifatnya dan bercirikan komunitas. Gerakan sosial juga terbagi menjadi dua tipe gerakan sosial, yakni apakah gerakan itu pada dasarnya untuk memulai suatu proses perubahan atau gerakan tersebut merupakan reaksi atas perubahan yang sedang terjadi.