Total Tayangan Laman

Jumat, 27 Januari 2012

PERKEMBANGAN PENULISAN SEJARAH DARI MASA KE MASA

Sejarah adalah suatu lembaran kisah masa lalu yang tersimpan secara pribadi, jika itu milik pribadi, dan akan terbuka kembali ketika kisah tersebut diperlukan untuk menerjemahkan apa makna dari kejadian yang hampir sama terjadi di masa lalu. Setiap orang, kelompok, masyarakat bahkan suatu bangsa pasti memiliki sejarah. Yaitu suatu kisah perjalanan panjang dari dulu hingga seperti sekarang. Dalam pengertian secara umum sejarah adalah sebuah cerita tentang peristiwa masa lalu.
Sejarah dalam pendidikan dijadikan salah satu mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa di sekolah. Pengajaran mengenai sejarah bertujuan untuk mengenalkan kepada generasi muda bahwa Negara kita yang telah berdiri seperti sekarang juga memiliki cerita yang panjang sebelum Negara ini berdiri. Selain itu juga Bung Karno juga pernah berkata yang bunyinya “ Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Beliau juga mengatakan JAS MERAH ( jangan sekali-kali melupakan sejarah). Hal ini dapat diartikan bahwa dari dulu pendiri Negara kita sudah mengecamkan kepada para penerus bangsa bahwa jangan pernah meninggalkan sejarah, karena sejarah bangsa ini ada, dan tanpa pahlawan Negara ini tidak pernah ada.
Pentingnya pemahaman sejarah bagi penerus bangsa membuat para pemimpin bangsa ini berusaha untuk menyusun sejarah bangsanya. Ini terbukti dengan diterbikannya buku-buku sejarah nasional yang terdiri dari beberapa jilid. Yang setiap jilid membahas beberapa masa sejarah yang oleh para penulis digolong-golongkan menjadi beberapa bagian. Meskipun dalam penuulisan trdapat campur tangan pemerintah. Sehingga penulisan tidak sesuai dengan apa yang terjadi atau tidak sesuai dengan fakta yang ada. Karena hal itu maka pada saat ini,  sejak orde baru runtuh, mulai dilakukan pelurusan sejarah agar sejarah sesuai dengan fakta, namun yang menjadi kendala adalah sudah diterapkannya sejarah yang tidak sesuai itu dalam pendidikan dan telah menjadi kurikulum pendidikan. Untuk itu agak sulit untuk mengubah sejarah yang telah mendaging dalam pendidikan. Sebut saja materi pendidikan tentang G 30 S/ PKI. Materi itu menjadi salah satu bab pembahasan dalam pendidikan dasar. Alur cerita pembohongan telah mengalir dalam diri pendidikan nasional. Meskpun agak sulit mengubahnya sekarang sedikit demi sedikit materi tersebut disesuaikan seiring dengan beberapa kali pergantian kurikulum pendidikan.
Materi pendidikan yang diajarkan di sekolah, terutama tentang sejarah, disesuaikan dengan penyusunan sejarah pada saat ini walau ada materi yang harus dipertahankan karena pembahasan tersebut sudah sesuai dengan fakta. Meskipun begitu untuk memperbarui pemahaman sejarah, kurikulum pendidikan harus menambah materi baru sebagai penambahan terhadap materi sejarah kontemporer.
Dalam sejarah penulisan sejarah Indonesia, penulisan sejarah digolongkan menjadi beberapa macam bentuk, yaitu historigrafi tradisional, historiografi colonial, dan historiografi modern. Historiografi tradisional adalah penulisan sejarah secara tradisional yang telah dimulai sejak masa kerajaan, bentuk atau contoh dari historiografi tradisional adalah babad, hikayat, tambo, dll. Kemudian historiografi colonial adalah penulisan sejarah berdasarkan sudut pandang orang Eropa/Belanda. Sedangkan historiografi modern adalah bentuk penulisan sejarah yang berdasarkan fakta yang sesuai.
Perkembangan penulisan sejarah di Indonesia telah mengalami perjalanan panjang. Dimulai dari masa kerajaan(baik dalam sejarah kuno maupun sejarah baru), masa penjajahan/colonial, masa penjajahan Jepang dan kemudian masa kemerdekaan yang kemudian menuju ke arah penulisan sejarah modern. Setiap masa penulisan sejarah memiliki ciri khas tersendiri. Penulisan sejarah tradisional tidak memperhatikan fakta realita dan lebih menonjolkan sifat magis-religius. Historiografi colonial sudah berdasarkan fakta namun lebih ,mementingkan kepentingan dari pemerintah colonial. Historiografi pada masa Jepang penulisan yang dilakukan lebih menonjolkan kelebihan orang-orang priibumi, ini dilakukan karena kepentingan Jepang. Sedangkan pada masa kemerdekaan penulisan bertujuan untuk membangkitkan semangat nasionalisme di jiwa bangsa Indonesia.
Penulisan sejarah Indonesia telah berkangsung lama sejak sebelum bangsa-bangsa Eropa datang ke wilayah Asia tenggara. Seorang penulis sejarah pada zaman dulu dipengaruhi oleh beberapa factor tertentu dan yang paling utama adalah seorang penulis sejarah harus memiliki keahlian khusus. Tidak semua orang dapat menulis sejarah. Faktor-faktor lain yang mendukung sebuah tulisan sejarah itu ada adalah situasi pada zaman itu. Situasi selain menjadi pendukung dari adanya sebuah tulisan sejarah, situasi pada saat itu juga mempengaruhi penulis dalam mengemabangkan tulisan sejarah. Situasi politik masa itu sangat mempengaruhi si penulis, begitu pula kondisi di sekitarnya maupun keluarganya.
Penulisan sejarah tradisional sudah dimulai sejak zaman kerajaan yaitu dimulai sejak abad 16. Bentuk-bentuk historiografi tradisional antara lain babad, hikayat, dll. Pengertian babad menurut Darusuprapta (1976), babad adalah salah satu jenis karya sastra – sejarah berbahasa Jawa Baru yang penamaannya beranekaragam, anatar lain berdasarkan nama sendiri, nama geografi, nama peristiwa atau yang lainnya. Sartono Kartodirdjo (1968) menjelaskan babad merupakan penulisan sejarah tradisional atau historiografi tradisional sebagai suatu bentuk dan suatu kultur yang membentangkan riwayat, dimana sifat – sifat dan tingkat kultur mempengaruhi dan bahkan menentukan bentuk itu sehingga historiografi selalu mencerminkan kultur yang menciptakannya. Menurut Soekmono (1973), babad merupakan cerita-sejarah yang biasanya lebih berupa cerita daripada uraian sejarah meskipun yang menjadi pola adalah memang peristiwa sejarah. Teeuw (1984) menjelaskan babad sebagai teks – teks historik atau genealogik yang mengandung unsur – unsur kesastraan. Demikanlah ada bermacam – macam pengertian babad. Akan tetapi, pada prinsipnya babad merupakan teks – teks historis yang dikemas dengan unsur – unsur kesastraan. Hikayat sendiri adalah cerita rekaan berbentuk prosa panjang berbahasa Melayu, yang menceritakan tentang kehebatan dan kepahlawanan orang ternama dengan segala kesaktian, keanehan dan karomah yang mereka miliki. Orang ternama tersebut biasanya raja, putera-puteri raja, orang-orang suci dan sebagainya.
Pada masa sekarang sejarah tidak lagi bergantung pada keahlian tetentu seorang penulis. Namun sejarah telah memiliki identitas tersendiri yang membuatnya mampu ditulis oleh setiap orang. Meskipun begitu sejarah masih mengedepankan sejarah mengenai orang-orang besar. Dibawah ini akan membahas mengenai masalah tersebut dan bagaiman perkembangan sejarah pada masa sekarang.
Kesadaran sejarah 
    apabila dengan tercapainya kemerdekaan serta terbentuknya negara nasional tirnbul keperluan untuk menulis sejarah Indonesia sebagai sejarah nasional, setelah 30 tahun kemerdekaan perkembangan historiografi di Indonesia dibedakan menjadi tiga cakrawala.
    1.      Cakrawala religio-magis serta kosmogonis, terlihat  pada Babad atau Sejarah/Hikayat. Bentuk seperti ini mulai ditinggalkan dan diganti dengan empiris-ilmiah. Cakrawala empiris-ilmiah menimbulkan sejarah yang bersifat kritis. Sejarah kritis memiliki metodolodi penulisan sendiri yang mengedepankan fakta-fakta.
    2.      Cakrawala natiocentris yang menggantikan ethnocenirisme, Sejarah Indonesia merupakan kesatuan yang berbataskan kesatuan politik-geografis wilayah Indonesia. Sejarah yang dulu hanya terbatas pada suatu wilayah kerajaan kini sejarah mencakup seluruh wilayah dari Negara kesatuan RI.
    3.      Cakrawala kolonial-elitis diganti dengan sejarah bangsa Indonesia secara keseluruhan dengan mencakup bermacam-macam lapisan sosialnya. Di dalam pandangan baru inilah dialihkannya pemusatan perhatian pada peranan raja-raja dan bawahannya, serta peranan para penguasa kolonial ke arah sejarah pergulatan rakyat Indonesia dalam perjalanan sejarah.
    Perubahan-perubahan pandangan itu mendapatkan perhatian pada usaha penulisan kembali sejarah Indonesia. Proses perubahan dimulai sejak awal tahun lima puluhan menunjukkan perkembangan dari tahap spekulatif (1950-1957), kearah tahap empiris-scientific. Di sini arah historicism yaitu berusaha menempatkan kejadian-kejadian dalam konteks sejarah di mana peristiwa-peristiwa yang terjadi berdampingan dengan kecenderungan untuk penulisan sejarah secara neoscientific. ialah yang berusaha menguraikan struktur-struktur yang mengedepankan kerangka bagi proses sejarah.
    Dalam penyusunan historiografi Indonesia dewasa ini, sejarawan dihadapkan dengan perubahan sosial baik yang evolusioner maupun yang revolusioner. Perubahan-perubahan yang bergerak dengan langkah yang semakin cepal membuka pandangan-pandangan baru bagi sejarawan. Pada satu fihak kesadaran akan historisitas benda-benda mengutarakan soal kapan, di mana serta apa yang terjadi. Rekonstruksi sejarah sebagai cerita dengan menggunakan kejadian aksi manusia serta dramatis personae, kesemuanya itu membuat tampilan sejarah menjadi unik sehingga membuat sejarah menjadi menarik.
    Di samping metode naratif maka muncul metode baru sebagai pengaruh pelbagai kecenderungan yaitu metode developmentalisme, yang akan melihat pola-pola perkembangan, kelangsungan serta perubahan-perubahan. Tanpa mengurangi sejarah naratif, dan historiografi yang terarah kepada kejadian-kejadian yang unique, rekonstruksi dari sejarah Indonesia perlu memperhatikan aspek-aspek perkembangan.
    Bila sejarah ingin tetap menjadi suatu disiplin ilmu maka perlu dikembangkan sejarah dengan menggunakanilmu bantu dari ilmu-ilmu sosial lain. Terutama pada perubahan- perubahan pembelajaran ilmu-ilmu sosial masa kini yang membahas secara sinkronis sehingga memerlukan bantuan pengetahuan sejarah yang diakronis untuk mengetahui tentang kecenderungan-kecenderungan sehingga dapat menunjukkan ke arah mana masyarakat akan  berkembang.


    Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar