Total Tayangan Laman

Selasa, 31 Januari 2012

SEJARAH MENTALITAS

Suatu sistem nilai-budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sistem nilai-budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Sistem-sistem tata kelakuan manusia lain yang tingkatnya lebih konkret, seperti aturan-aturan khusus, hukum dan norma-norma, semuanya juga berpedoman kepada sistem nilai-budaya itu.
Sebagai bagian dari adat-istiadat dan wujud ideal dari kebudayaan, sistem nilai-budaya seolah-olah berada di luar dan di atas diri para individu yang menjadi warga masyarakat yang bersangkutan. Para individu itu sejak kecil telah diresapi dengan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakatnya sehingga konsepsi-konsepsi itu sejak lama telah berakar dalam alam jiwa mereka. Itulah sebabnya nilai-nilai budaya sukar diganti dengan nilai-nilai budaya lain dalam waktu singkat.
Istilah kedua, ialah sikap mental, walaupun sering dikacaukan dengan istilah sistem nilai-budaya, sebenarnya mempunyai arti yang samasekali berlainan. Konsep sistem nilai-budaya atau cultur value system itu banyak dipakai dalam ilmu-ilmu sosial, yang terutama terfokus dalam kebudayaan dan masyarakat, dan baru secara sekunder kepada  manusia sebagai individu dalam masyarakat.
Sebaliknya, sikap mental atau attitude itu, banyak diapaki dalam ilmu psikologi, yang terutama memfokus pada individu dan baru secara sekunder kepada kebudayaan dan masyarakat yang merupakan dari lingkungan dari individu. Suatu sikap adalah suatu disposisi atau keadaan mental di dalam jiwa dan diri seorang individu untuk bereaksi terhadap lingkungannya (baik lingkungan manusia atau masyarakatnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan fisiknya).
Walaupun berada di dalam diri seorang individu, sikap itu biasanya toh juga dipengaruhi oleh nilai budaya dan sering juga bersumber kepada sistem nilai-budaya  yang ada di dalam lingkungan masyarakat dan mempengaruhi seorang individu baik secara langsung maupun tidak langsung.
Istilah ketiga, ialah mentalitas, bukan istilah buat suatu konsep ilmiah dengan suatu arti yang ketat. Istilah itu adalah istilah sehari-hari dan biasanya diartikan sebagai : Keseluruhan dari isi serta kemampuan alam pikiran dan alam jiwa manusia dalam hal menanggapi lingkungannya. Pokoknya, istilah itu mengenai sistem nilai-budaya maupun sikap mental, dan bisa kita pakai kalau kita membicarakan kedua hal tersebut, tanpa maksud untuk secara ketat mengkhusus terhadap salah satu dari keduanya.
Contoh dari suatu sikap yang biasanya hanya ada pada individu-individu tertentu saja, adalah misalnya sikap congkak dalam hal menanggapi orang lain yang berkedudukan sebagai bawahan, atau orang yang bersifat kurang dan lemah secara fisik, mental dan material. Dasarnya adalah mungkin sikap congkap seperti pada sikap di atas, tapi kemudian sikap ini terpengaruh  yang menganggap bahwa mencapai kedudukan tinggi dimana orang dapat dilayani orang lain, menjadi tujuan utama yang memberi arti kepada segala usaha dari karya manusia dalam hidupnya.
Dalam bagian dari nilai-budaya muncullah konsep sejarah intelektual (Intellectual History) atau sama dengan New History yang digagas oleh Perry Miller. Lain lagi pemikiran yang digagas oleh Robert Darnton tentang Intellectual History, dalam pemikirannya Intellectual History dibagi menjadi 4, yaitu :
a)      Sejarah Pemikiran (ideas), yakni studi filsafat
b)      Sejarah Intelektual (studi tentang informal, pendapat, gerakan pendidikan)
c)      Sejarah Sosial tentang ideology
d)     Sejarah cultural/sejarah kebudayaan seperti istilah antropologi meliputi pandangan hidup dan mentalitas kolektif.
Jadi dalam pendapat Robert Darnton Intellectual history meliputi keseluruhan bentuk pemikiran yang obyeknya agak berbeda dengan sejarah social dan sejarah ekonomi.
            Konsep di atas mendapat kritikan dari Febvre dengan memunculkan Sejarah Mentalitas. Bahkan Lucian Febvre disebut sebagai pelopor Sejarah Mentalitas. Menurut Febvre  langkah yang tepat dalam analisa sejarah adalah model penelusuran/pendeskripsian of faits de mentalite (keyakinan mentalitas).
Kritik terhadap sejarah intelektual mengarah pada dua kesalahan, yakni :
a.       Sejarah Intelektual memisahkan ide/atau pemikiran atau system pemikiran dari kondisi ide tersebut oleh karena itu memisahkannya dari bentuk kehidupan social nyata.
b.      Sejarah Intelektual membentuk suatu abstraksi umum yang tak terbatas/tak tergantung tempat dan waktu.
Mengapa Lucian Febvre disebut sebagai pelopor sejarah mentalitas? Lucian Febvre menjadi pelopor sejarah mentalitas karena dia mengemukakan pendapatnya tentang Spirit of the Time atau mental habits atau mental equipment. Inilah merupakan pendekatan baru yang perlu diterapkan dalam sejarah intelektual. Maka Febvre disebut sebagai pelopor Sejarah Mentalitas.
Obyek dari sejrah mentalitas adalah Kehidupan Kolektif, terdiri dari :
·         Sistem nilai atau mencakup sikap mental
·         Kebiasaan atau automatis repetitive : jiwa kolektif suatu peradaban
·         Mental kolektif berupa kekuatan ide
Selain itu Sejarah mentalitas juga memerlukan konsep. Konsep sejarah mentalitas mencakup sistem nilai (value system) yakni wujud yang paling abstrak dari kebudayaan dan sikap mental (mental attitude yang bersifat individual) atau predisposisi seseorang dalam menanggapi lingkungan/obyek yang memiliki kecenderungan untuk bertindak.
Kemudian dilakukan analisis terpadu sehingga mengahasilkan factor-faktor mendasar seperti mentalitas kolektif masyarakat saat itu yang mencakup :
a)      Mentalitas dalam waktu lama
b)      Perubahan keyakinan dan kepekaan dalam waktu singkat
c)      Tentang gerakan de-kristenisasi di Perancis
d)     Bagaimana hubungan antara kelompok-kelompok social dengan tingkat budaya mereka, yang menghasilkan penggolongan mentalitas masyarakat dalam suatu hirarchi.
e)      Penggolongan penghasilan dan profesi.
Secara metodologis Sejarah mentalitas menerapkan metode :
a.       Disiplin Antropologi dan
b.      Disiplin Sosiologi
Dengan beberapa obyek :
ü  Upacara ritual mentalitas terkait hidup/kematian, kepercayaan, model pendidikan dll.
ü  Diferensiasi social, strtifikasi social, yang dikaitkan dengan diferensiasi kultural.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar